Gorontalo – Kekhawatiran terhadap potensi tsunami membuat sejumlah warga di wilayah pesisir Provinsi Gorontalo berbondong-bondong mengungsi ke kawasan perbukitan. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi dini menyusul informasi yang beredar mengenai kemungkinan terjadinya gempa bumi bawah laut yang bisa memicu gelombang tsunami.
Sejak pagi hari, terlihat warga dari beberapa desa pesisir seperti Leato, Tanjung Kramat, dan Pohe mulai meninggalkan rumah mereka. Dengan membawa barang-barang penting, anak-anak, lansia, dan hewan peliharaan, mereka menyusuri jalan menuju lokasi yang dianggap lebih aman di dataran tinggi.
“Kami dengar ada potensi gempa besar di laut. Daripada menunggu, lebih baik kami berjaga-jaga. Nyawa lebih penting,” ujar Ahmad, warga setempat yang mengungsi bersama keluarganya ke daerah perbukitan Hulontalangi.
Tidak Ada Peringatan Resmi, Tapi Warga Tetap Waspada
Meski hingga kini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum mengeluarkan peringatan resmi tsunami di wilayah Gorontalo, namun kekhawatiran masyarakat tidak bisa dibendung. Sebagian warga mengaku trauma dengan bencana serupa di daerah lain, seperti tsunami di Palu pada 2018, yang datang tiba-tiba tanpa peringatan memadai.
Kepala BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Gorontalo, Andi Hasan, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima laporan pengungsian mandiri tersebut.
“Kami imbau masyarakat untuk tetap tenang, namun tetap waspada. Jika ada informasi resmi dari BMKG atau pemerintah, segera ikuti instruksi. Kami sudah siagakan tim di beberapa titik pengungsian,” ujarnya.

Baca juga: Gubernur Gusnar; Potensi Tsunami Tidak Terjadi di Gorontalo
Kesiapsiagaan dan Simulasi Tsunami Jadi Sorotan
Fenomena pengungsian spontan ini memunculkan sorotan baru terhadap pentingnya sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan. Banyak warga mengaku belum pernah mengikuti simulasi evakuasi tsunami secara resmi, sehingga saat ada kabar bencana, respons yang muncul sering kali berupa kepanikan.
Pemerintah daerah diminta memperkuat edukasi dan mitigasi bencana, terutama bagi masyarakat pesisir yang paling rentan.
“Kami butuh pelatihan dan informasi yang jelas. Jangan sampai kami hanya mengandalkan kabar dari media sosial untuk menyelamatkan diri,” keluh Nur, warga Kecamatan Dumbo Raya.
Upaya Pemerintah Menenangkan Masyarakat
Sementara itu, Pemprov Gorontalo dan aparat keamanan turut turun ke lapangan untuk meredam kepanikan. Petugas terlihat membantu pengaturan arus pengungsian, memastikan warga tidak berdesakan atau mengalami gangguan kesehatan.
BMKG juga merilis pernyataan bahwa tidak ada aktivitas seismik signifikan di sekitar laut Gorontalo yang berpotensi memicu tsunami. Namun, imbauan untuk tetap tenang dan waspada terus digaungkan.
Keselamatan Jadi Prioritas Utama
Meski kondisi sejauh ini masih aman, langkah masyarakat untuk mengungsi menunjukkan bahwa kesadaran mitigasi bencana mulai tumbuh di kalangan warga.





